A. Penyesuaian
Diri
·
Pengertian Penyesuaian Diri
Penyesuaian diri adalah usaha manusia
untuk mencapai harmoni pada diri sendiri dan pada lingkungannya. Sehingga rasa
permusuhan, dengki, iri hati, pransangka, depresi, kemarahan, dan lain-lain
emosi negatif sebagai respon pribadi yang tidak sesuai dan kurang efisien bisa
dikikis habis (Kartini Kartono, 2002:56).
·
Konsep Penyesuaian Diri
Penyesuaian
dapat diartikan atau dideskripsikan sebagai adaptasi dapat mempertahankan
eksistensinya atau bisa survive dan memperoleh kesejahteraan jasmaniah dan
rohaniah, dan dapat mengadakan relasi yang memuaskan dengan tuntutan sosial.
Penyesuaian dapat juga diartikan sebagai konformitas, yang berarti menyesuaikan
sesuatu dengan standar atau prinsip. Penyesuaian sebagai penguasaan, yaitu
memiliki kemampuan untuk membuat rencana dan mengorganisasi respons-respons
sedemikian rupa, sehingga bisa mengatasi segala macam konflik, kesulitan, dan
frustrasi-frustrasi secara efisien.
Individu
memiliki kemampuan menghadapi realitas hidup dengan cara yang memenuhi syarat.
Penyesuaian sebagai penguasaan dan kematangan emosional. Kematangan emosional
maksudnya ialah secara positif memiliki responss emosional yang tepat pada
setiap situasi. Disimpulkan bahwa penyesuaian adalah usaha manusia untuk
mencapai keharmonisan pada diri sendiri dan pada lingkungannya.
·
Pertumbuhan Personal
1. Penekanan
Pertumbuhan Penyesuaian Diri Dan
Pertumbuhan
Penyesuaian
diri merupakan suatu proses dinamika yang hampir selalu membutuhkan perubahan
dan adaptasi, dan dengan demikian semakin tetap dan tidak merubah
respons-respons itu, maka semakin sulit juga menangani tuntutan-tuntutan yang
berubah. Kenyataan ini menjelaskan pengaruh-pengaruh yang menghancurkan
kepribadian seseorang. Orang yang mengalami depresi karena sering kali merasa
sulit menyesuaikan diri dengan pola tingkah laku yang di perlukan.
Penyesuaian diri dalam bahasa aslinya dikenal dengan istilah adjustment atau
personal adjustment. Schneiders berpendapat bahwa penyesuaian diri dapat
ditinjau dari tiga sudut pandang, yaitu: penyesuaian diri sebagai adaptasi
(adaptation), penyesuaian diri sebagai bentuk konformitas (conformity), dan
penyesuaian diri sebagai usaha penguasaan (mastery). Pada mulanya penyesuaian
diri diartikan sama dengan adaptasi (adaptation), padahal adaptasi ini pada
umumnya lebih mengarah pada penyesuaian diri dalam arti fisik, fisiologis, atau
biologis. Penyesuaian diri yang dilakukan oleh seseorang akan berdampak juga
pada pertumbuhan personalnya. Jika seseorang dapat menyesuaikan diri dengan
baik di lingkungan sekitarnya apalagi di lingkungan baru, maka pertumbuhan
personalnya juga akan mengalami peningkatan. Selain iu penyesuian diri dapat
juga di pahami sebagai belajar hidup dengan sesuatu yang tidak dapa di ubah.
Orang yang memiliki penyesuian diri yang baik bisa menerima keterbatasan yang
tidak dapat di ubah. Berdasarkan orientasi penyesuaian diri, kesehatan mental
memiliki pengertian kemampuan seseorang untuk dapat menyesuaikan diri sesuai
tuntutan kenyataan di sekitarnya. Tuntutan kenyataan yang dimaksud di sini
lebih banyak merujuk pada tuntutan yang berasal dari masyarakat yang secara
konkret mewujud dalam tuntutan orang-orang yang ada di sekitarnya Penyesuaiaan
diri berhubungan dengan cara-cara yang dipilih individu untuk mengolah
rangsangan, ajakan dan dorongan yang datang dari dalam maupun luar diri.
Penyesuaian diri yang dilakukan oleh pribadi yang sehat mental adalah
penyesuaian diri yang aktif dalam pengertian bahwa individu berperan aktif
dalam pemilihan cara-cara pengolahan rangsang itu. Selain itu Penyesuaian diri
yang dilakukan orang sehat mental tidak menyebabkan bergantinya kepribadian.
Perubahan-perubahan dalam diri individu tidak mengubah secara drastis dirinya.
Pada orang sehat mental stabilitas diri dipertahankan. Dalam menyesuaian diri
dengan lingkungan, individu dapat menerima apa yang ia anggap baik dan menolak
apa yang ia anggap buruk berdasarkan pegangan normatif yang ia miliki. Kita sudah
memahami bahwa penyesuaian diri merupakan dasar bagi penentuan derajat
kesehatan mental seseorang. Orang yang dapat menyesuaikan diri secara aktif dan
realistis sambil tetap mempertahankan stabilitas diri mengindikasikan adanya
kesehatan mental yang tinggi pada dirinya. Sebaliknya mereka yang tidak mampu
menyesuaikan diri secara aktif, tidak realistik dan tidak stabil dirinya
menunjukkan rendahnya kesehatan mental pada dirinya. Dengan kata lain kemampuan
penyesuaian diri merupakan variabel utama dalam kesehatan mental. Dengan
demikian dapat dipahami bahwa peningkatan derajat kesehatan mental setara
dengan peningkatan kemampuan penyesuaian diri yang aktif, realistik disertai
dengan stabilitas diri. Sebenarnnya dalam bahasa inggris , isilah penyesuian diri
memiliki 2 kata yang berbeda maknannya , yaitu adaptasi ( adaptaion ) dan
penyesuian ( adjustment). Kedua istilah tersebut sama-sama mengacu pada
pengertian mengenai penyesuian diri, tetapi memiliki perbedaan makna yang
besar. Adaptasi ( adaptaion ) memiliki pengertian individu melakukan penyesuian
diridengan lingkungan. Pengertian ini lebih menekankan pada perubahan yang
individu lakukan terhadap dirinnya supaya tetap bisa sesuian dengan
lingkungannya . sedangkan penyesuaian ( adjustment) dipahami sebagai mengubah
lingkungan agar menjadi lebih sesuai dengan individu. Pengertian ini lebih
menekankan pada perubahan lingkungan dilakukan oleh individu sebagai tetap
sesuia dengan dirinnya. Jadi penyesiuan diri yang baik itu individu atau
seseorang mampu menggunakan mekanisme penyesuian diri secara luwes dan
tergantung pada siuasinnya. Menur ut konsepnnya penyesuian diri adalah konsep
yang di deskripsikan sebagai adaptasi dan mempertahankan eksistensinya atau
bisa survive dan memperoleh kesejahteraan jasmaniah dan rohaniah, serta dapat
mengadakan relasi yang memuaskan dengan tuntutan sosial. Penyesuaian dapat juga
diartikan sebagai konformitas, sehingga bisa mengatasi segala macam konflik,
kesulitan, dan frustrasi-frustrasi secara efisien.
2. Variasi
dalam Pertumbuhan
Dalam
variasi pertumbuhan memang sangat beragam. Tidak semua individu berhasil dalam
melakukan penyesuaian diri berdasarkan tingkatan usia, pertumbuhan fisik,
maupun sosial nya. Mengapa? karena terkadang terdapat rintangan-rintangan yang
menyebabkan ketidakberhasilan individu dalam melakukan penyesuaian, baik
rintangan itu dari dalam diri atau dari luar diri.
3. Kondisi-Kondisi
Untuk Bertumbuh
Kondisi
jasmani seperti pembawa atau konstitusi
fisik dan tempramen sebagai disposisi yang diwariskan, aspek perkembangannya
secara intrinsik berkaitan erat dengan susunan atau konstitusi tubuh, kondisi
jasmani dan kondisi pertumbuhan fisik memang sangat mempengaruhi bagaimana individu
dapat menyesuaikan diri nya.
Carl
Roger (1961) menyebutkan 3 aspek yang memfasilitasi pertumbuhan personal dalam
suatu hubungan :
a) Keikhlasan
kemampuan untuk menyadari perasaan sendiri, atau menyadari kenyataan.
b) Menghormati
keterpisahan dari orang lain tanpa kecuali, dan
c) Keinginan
yang terus menerus untuk memahami atau berempati terhadap orang lain.
4. Fenomologi
Pertumbuhan
Fenomenologi
memandang manusia hidup dalam “dunia kehidupan” yang dipersepsi dan
diinterpretasi secara subyektif. Setiap, orang mengalami dunia dengan caranya
sendiri. “Alam pengalaman setia orang berbeda dari alam pengalaman orang lain.”
(Brouwer, 1983:14 Fenomenologi banyak mempengaruhi tulisan-tulisan Carl Rogers,
yang boleh disebut sebagai-_Bapak Psikologi Humanistik. Carl Rogers
menggarisbesarkan pandangan Humanisme sebagai berikut (kita pinjam dengan
sedikit perubahan dari Coleman dan Hammen, 1974:33):
B.
Stress
·
Pengertian Stress, Efek-Efek Dari Stress
General Adaption Syndrom Menurut Hans Selye
Dari
sudut pandang ilmu kedokteran, menurut Hans Selye seorang fisiologi dan pakar
stress yang dimaksud dengan stress adalah suatu respon tubuh yang tidak
spesifik terhadap aksi atau tuntutan atasnya.Jadi merupakan repons automatik
tubuh yang bersifat adaptif pada setiap perlakuan yang menimbulkan perubahan
fisis atau emosi yang bertujuan untuk mempertahankan kondisi fisis yang optimal
suatu organisme. Dari sudut pandang psikologis stress didefinisikan sebagai
suatu keadaan internal yang disebabkan oleh kebutuhan psikologis tubuh atau
disebabkan oleh situasi lingkungan atau sosial yang potensial berbahaya,
memberikan tantangan, menimbukan perubaha-perubahan atau memerlukan mekanisme pertahanan
seseorang. Suwondo(1996) mendifinisikan stess sebagai suatu keadaan psikologik
yang merupakan representatif dari transaksi khas dan problematika antara
seseorang dengan lingkungannya.
·
Efek-Efek Dari Stress
Local Adaptation Stres.Tubuh menghasilkan banyak respon
setempat terhadap stres. Respon setempat ini termasuk pembekuan darah dan
penyembuhan luka, akomodasi cahaya, dll. Responnya berjangka pende
Karakteristik dari LAS :
§
Respon yang terjadi hanya setempat
dan tidak melibatkan semua system.
§
Respon bersifat adaptif ; diperlukan
stresor untuk menstimulasinya.
§
Respon bersifat jangka pendek dan tidak
terus menerus.
§
Respon bersifat restorative.
General Adaptation Syndrom Selye (1983) menyatakan munculnya
sindrom adaptasi umum (GAS) melalui beberapa tahap berikut :
·
Tahap peringatan (Alarm Stage)
Tahap reaksi awal tubuh dalam menghadapi berbagai stressor.
Tubuh tidak dapat bertahan pada tahapan ini dalam jangka waktu lama.
·
Tahap Adaptasi atau Eustres
(Adaptation Stage)
Tahap dimana tubuh mulai beradaptasi dengan adanya stres dan
berusaha mengatasi serta membatasi stresor. Ketidakmampuan tubuh beradaptasi
mengakibatkan tubuh menjadi rentan terhadap penyakit.
·
Tahap Kelelahan atau distres
(Exhaution Stage)
Tahap dimana adaptasi tidak dapat dipertahankan karena stres
yang berulang atau berkepanjangan sehingga berdampak pada seluruh tubuh
Efek
lain seperti efek fisiologis dari stres pada tubuh meliputi:
v Nyeri dada
v Insomnia atau tidur masalah
v Nyeri kepala Konstan
v Hipertensi
v Tukak
·
Tipe-Tipe Stress Dalam Psikologi
Ø Tekanan
Tekanan,
Kita dapat mengalami tekanan dari dalam maupun luar diri, atau keduanya. Ambisi
personal bersumber dari dalam, tetapi kadang dikuatkan oleh harapan-harapan
dari pihak di luar diri.
Ø Frustasi
Frustrasi,
adalah suatu harapan yang diinginkan dan kenyataan yang terjadi tidak sesuai
dengan yang diharapkan. Frustrasi terjadi ketika motif atau tujuan kita
mengalami hambatan dalam pencapaiannya.
Ø Konflik
Konflik,
Konflik terjadi ketika kita berada di bawah tekanan untuk berespon simultan
terhadap dua atau lebih kekuatan-kekuatan yang berlawanan. Berasal dari kata
kerja latin configere yang berarti saling memukul. Secara sosiologis, konflik
diartikan sebagai suatu proses sosial antara dua orang atau lebih (bisa juga
kelompok) dimana salah satu pihak berusaha menyingkirkan pihak lain dengan
menghancurkannya atau membuatnya tidak berdaya.
Ø Kecemasan
Gelisah,
khawatir, takut, phobia dan perasaan semacamnya itu merupakan suatu tanda atau
sinyal seseorang mengalami suatu kecemasan. Biasanya kecemasan di timbulkan
karena adanya rasa kurang nyaman, rasa tidak aman atau merasa terancam pada
dirinya. Contohnya cemas ketika akan melakukan presentasi tugas kelompok
dikelas.
·
Symptom reducing responses terhadap
stress, mekanisme pertahanan diri dan strategi coping untuk mengatasi stress
“minor”
1. Menghilangkan
stres mekanisme pertahanan, dan penanganan yang berfokus pada masalah
Menurut Lazarus penanganan stres atau
coping terdiri dari dua bentuk, yaitu :
a) Coping
yang berfokus pada masalah (problem-focused coping) adalah istilah Lazarus
untuk strategi kognitif untuk penanganan stres atau coping yang digunakan oleh
individu yang menghadapi masalahnya dan berusaha menyelesaikannya.
b) Coping yang berfokus pada emosi
(problem-focused coping)adalah istilah Lazarus untuk strategi penanganan stres
dimana individu memberikan respon terhadap situasi stres dengan cara emosional,
terutama dengan menggunakan penilaian defensive
.
2. Strategi
penanganan stres dengan mendekat dan menghindar:
a) satrategi
mendekati (approach strategies) meliputi usaha kognitif untuk memahami penyebab
stres dan usaha untuk menghadapi penyebab stres tersebut dengan cara menghadapi
penyebab stres tersebut atau konsekuensi yang ditimbulkannya secara langsung
b).
strategi menghindar (avoidance strategies) meliputi usaha kognitif untuk menyangkal atau
meminimalisasikan penyebab stres dan
usaha yang muncul dalam tingkah laku, untuk
menarik diri atau menghindar dari penyebab stress
3. Berpikir
positif dan self-efficacy
Menurut Bandura
self-efficacy adalah sikap optimis yang memberikan perasaan dapat mengendalikan
lingkungannya sendiri. Menurut model realitas kenyataan dan khayalan diri yang
dikemukan oleh Baumeister, individu dengan penyesuaian diri yang terbaik
seringkali memiliki khayalan tentang diri mereka sendiri yang sedikit di atas
rata-rata. Memiliki pendapat yang terlalu dibesar-besarkan mengenai diri
sendiri atau berpikir terlalu negatif mengenai diri sendiri dapat mengakibatkan
konsekuensi yang negatif. Bagi beberapa orang, melihat segala sesuatu dengan
terlalu cermat dapat mengakibatkan merasa tertekan. Secara keseluruhan, dalam
kebanyakan situasi, orientasi yang berdasar pada kenyataan atau khayalan yang
sedikit di atas rata-rata dapat menjadi yang paling efektif .
4. Sistem
dukungan
Menurut East, Gottlieb,
O’Brien, Seiffge-Krenke, Youniss & Smollar,keterikatan yang dekat dan positif
dengan orang lain – terutama dengan keluarga dan teman – secara konsisten
ditemukan sebagai pertahanan yang baik terhadap stress
·
Pendekatan problem solving terhadap
stress bagaimana meningkatkan toleransi stress.
Salah
satu cara dalam menangani stres yaitu menggunakan metode Biofeedback,
tekhniknya adalah mengetahui bagian-bagian tubuh mana yang terkena stres
kemudian belajar untuk menguasainya. Teknik ini menggunakan serangkaian alat
yang sangat rumit sebagai feedback.
Melakukan
sugesti untuk diri sendiri, juga dapat lebih efektif karena kita tahu bagaimana
keadaan diri kita sendiri. Berikan sugesti-sugesti yang positif, semoga cara
ini akan berhasil ditambah dengan pendekatan secara spiritual (mengarah kepada
Tuhan).Meningkatkan Toleransi Stress dan Pendekatan Berorientasi terhadap Tugas
Meningkatkan
toleransi terhadap stres, dengan cara meningkatkan keterampilan/kemampuan diri
sendiri, baik secara fisik maupun psikis, misalnya, Secara psikis: menyadarkan
diri sendiri bahwa stres memang selalu ada dalam setiap aspek kehidupan dan
dialami oleh setiap orang, walaupun dalam bentuk dan intensitas yang berbeda.
Daftar Pustaka
Sobur., A 2003. Psikologi Umum Pustaka Setia : Bandung
Desmita, 2009. Psikologi Perkembangan Remaja Rosda Karya : Bandung
Kartono.,A 2002. Psikologi
Perkembangan. Rineka Cipta : Jakarta
Yustinus.,E 2006.kesehatan mental kanisius:Jakarta
Tidak ada komentar:
Posting Komentar